Madura, 27 Maret 2026 – Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Madura tetap teguh menjaga tradisi nyalase atau ziarah kubur. Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar ritual tahunan, melainkan menjadi penghubung spiritual antara generasi sekarang dengan leluhur mereka.
Salah satu warga, Bapak Selawi, menuturkan bahwa ziarah kubur merupakan bagian penting dalam kehidupan keluarganya. Ia secara rutin mengajak anak-anaknya mengunjungi makam leluhur sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengingat akan asal-usul keluarga.
“Ini bukan hanya soal datang dan berdoa, tapi bagaimana anak-anak tetap terhubung secara batin dan tidak melupakan jati dirinya,” ujar Selawi.
Menurutnya, tradisi nyalase juga menjadi sarana menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda. Di tengah area pemakaman, ia membimbing anak-anaknya untuk berdoa sekaligus mengenal sosok leluhur yang telah berpulang.
Bagi masyarakat Madura, ziarah kubur memiliki makna mendalam sebagai simbol penghormatan tertinggi kepada para pendahulu. Tradisi ini diyakini mampu memperkuat ikatan batin sekaligus menjadi pengingat bahwa perjalanan hidup tidak lepas dari doa dan restu leluhur.
Melalui nyalase, nilai-nilai luhur terus diwariskan dari generasi ke generasi, menjaga identitas budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman. (miskawi)
